KARYA TULIS ILMIAH
MENJAGA TINGKAT HIDUP 100 PERSEN PETERNAKAN AYAM BROILER
OLEH :
ILHAM AKBAR HARDIANSYAH
JOMBANG - JAWA TIMUR
SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI SATU
J O M B A N G
2011
MENJAGA TINGKAT HIDUP 100 PERSEN PETERNAKAN AYAM BROILER
Karya Tulis Ilmiah salah satu bentuk kreativitas dalam bidang Iptek
Pada
Sekolah Menengah Pertama Negeri Satu Jombang, Jawa Timur
Oleh
Ilham Akbar Hardiansyah
009
SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 1
JOMBANG – JAWA TIMUR
i
Setelah mempelajari dan menguji dengan sungguh-sungguh, penulis berpendapat bahwa tulisan ini baik ruang lingkup maupun kualitasnya dapat diajukan sebagai karya tulis ilmiah
Jombang, 15 Maret 2011
SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 1
JOMBANG – JAWA TIMUR
Kepala Sekolah,
ii
Aku persembahkan kepada,
Ayah bunda, saudara,
Sahabat dan guruku
Yang aku cintai.
Ing Ngarso Sung Tulodho Ing Madyo mangun Karso Tut Wuri
Handayani
INTISARI
MENJAGA TINGKAT HIDUP 100 PERSEN PETERNAKAN AYAM BROILER
Ilham Akbar Hardiansyah
INTISARI
Karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk memberikan informasi bagi para pemerhati peternakan terutama para peternak ayam potong (Broiler). Informasi yang akan disampaikan adalah bahwa tingkat kematian (mortalitas) dalam pemeliharaan ayam potong dapat dipertahankan antara satu sampai tiga persen dalam setiap periode pemeliharaan.
Sejumlah 5.000 DOC broiler ditata dalam sebuah kandang panggung dengan ukuran panjang 70 meter, lebar 8 meter dengan ketinggian panggung kandang 170 cm dari atas tanah dengan atap terbuat dari daduk. Kandang dibagi dalam 5 kelompok (Kelompok A, B, C, D, E) diberi penyekat (sehingga 1 kelompok berisi 1.000 ekor ayam) sebagai batas sehingga 5.000 DOC tidak tercampur menjadi satu. Tahap-tahap Pemeliharaan dan perlakuannya adalah sebagai berikut :
- DOC sampai + umur 14 hari : pengopenan, pemberian pakan komersial Broiler I, air minum + vitamin secukupnya. Saat umur 4 hari dilakukan imunisasi (vaksinasi) NCD melalui suntikan. Pada umur 15 hari dilakukan vaksinasi ke dua melalui air minum. Untuk mengoptimalkan daya tahan tubuh diberikan Formulasi Ekstrak Cair Herbal (FECH). Perlakuan FECH melalui air minum diberikan selama 24 jam, perlakuannya adalah sebagai berikut :
Kelompok A : + Vitamin + FECH ,
Kelompok B : + Vitamin (Kontrol)
Kelompok C : + Vitamin + FECH ,
kelompok D : + Vitamin + Obat paket
Kelompok E : + Vitamin + FECH.
Pada umur 35 hari ke dalam semua Kelompok dimasukkan 1 ekor ayam dewasa yang diduga sakit yang angka kesakitannya cukup tinggi.
Dari hasil pengamatan diperoleh data :
Kelompok A : mati 29 ekor ekor, hidup tampak sehat 971
Kelompok B : Sakit semua , 600 ekor diantaranya mati ,
Kelompok C : mati 24 ekor, hidup tampak sehat 976 ekor
Kelompok D : 500 ekor sakit , 300 ekor mati , 200 hidup tampak sehat
Kelompok E : mati 32 ekor, hidup tampak sehat 968 ekor
Dari hasil itu disimpulkan bahwa pemberian Formulasi Ekstrak Cair Herbal berperan aktif dalam mengatasi kontaminasi penyakit pada peternakan ayam potong.
iii
UCAPAN TERIMA KASIH
UCAPAN TERIMA KASIH
Pada kesempatan ini penulis mengucap puji syukur ke hadirat Tuhan Tuhan Yang Maha Esa atas karunia yang telah dilimpahkan, sehingga selesai penyusunan karya tulis ilmiah ini.
Dengan rasa hormat, pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada peternak yang memfasilitasi kegiatan saya ini.
Kepada ayah dan ibu tercinta serta saudaraku, rasa terima kasih yang tak terhingga penulis sampaikan, atas dorongan semangat dan doa restunya selama penulisan karya tulis ilmiah ini.
Akhirnya kepada semua pihak yang tak sempat penulis sebutkan di atas dan telah memberikan bantuan serta perhatiannya, diucapkab banyak terima kasih.
Semoga segala amalnya mendapat imbalan yang setimpal dari Allah SWT. Amien.
iv
KATA PENGANTAR
KATA PENGANTAR
Faktor utama keberhasilan dalam pemeliharaan ayam potong dalam skala besar adalah pencegahan penyakit. Pencegahan meliputi imunisasi dan pemberian obat herbal selain harganya murah , tidak memiliki efek samping, dan pengaruhnya terhadap kualitas daging lebih baik daripada menggunakan obat-obat moderen yang harganya mahal.
Serangkaian percobaan pencegahan dengan menggunakan Formulasi Ekstrak Cair Herbal (FECH : yang terdiri atas pace, kunyit, temulawak, temu hitam, temu giring, lempuyang, jahe , kencur, lengkuas , dan temu kunci) dilakukann di lapangan dan hasilnya dituangkan dalam tulisan ini.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih
atas bantuan dari Bapak Hadi selaku peternak ayam potong dan anak kandangnya serta pemilik pohon mengkudu, pemilik kebun tanaman obat sangat dihargai.
Akhirnya penulis masih menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna. Walaupun demikian semoga hasil-hasil yang dituangkan dalam karya tulis ilmiah ini bermanfaat bagi mereka yang memerlukannnya.
Jombang,
Penulis
v
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ...................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN .............................. ix
DAFTAR GAMBAR ................................. x
BAB I. PENDAHULUAN ....................................... 1
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ............................... 7
Mengkudu (Morinda Citrifolia, Linnaeus) 7
Sistematika .............................. 7
Uraian Tumbuhan ................... 9
Kunyit (Curcuma domestica Val) ...... 12
Sistematika ............................... 12
Uraian Tumbuhan ....................... 12
Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) . 14
Uraian Tumbuhan ................... 14
Temuhitam (Curcuma aeruginosa Roxb) 19
Uraian Tumbuhan .................... 19
Temugiring (Curcuma hyeneana Val) . 20
Uraian Tumbuhan .................... 20
Lempuyang (Zingiber zerumbet) .......... 24
Sistematika .............................. 24
Jahe (Zingiber officinale) .................... 25
Sistematika ............................. 25
Kencur (Kaempferia galanga) ............ 27
Sistematika ............................. 27
Lengkuas (Alpinia galanga) ................ 29
Sistematika ........................... 29
Uraian Tumbuhan ................. 30
Temukunci (Boesenbergia pandurata) 30
Sistematika ........................... 30
Uraian tumbuhan .................. 31
BAB III. MATERI DAN METODA .......................... 32
Tempat dan waktu Penelitian ......... 32
Materi dan Alat Penelitian .......... 32
Metode Penelitian ........................... 32
Persiapan dan Pakan Ayam ... 32
Pembagian Ayam ................... 32
Pembagian Kelompok Perlakuan
Perlakuan ................................ 33
Pembuatan Formulasi Ekstrak
Cair Herbal ......................... 33
Peubah Yang Diamati ............. 37
Rancangan Percobaan dan Analisa
Data ......................................... 37
BAB IV. HASIL PENELITIAN .................................. 38
BAB V. PEMBAHASAN .......................................... 39
BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN .................. 42
DAFTAR PUSTAKA .................................. 44
LAMPIRAN ................................................. 45
vii
DAFTAR TABEL
DAFTAR TABEL
Halaman
Nomor
1. Penghitungan Ayam Terinfeksi Dengan Metode Reed
Dan Muench (1938) ....................................................
2. Penghitungan Ulangan Dari Ayam Terinfeksi Dengan
Metode Reed dan Muench (1938) ...........................
3. Hasil Analisis Nilai Daya Tahan Tubuh Ayam yang
Terinfeksi Setelah Perlakuan FECH ...........................
viii
DAFTAR LAMPIRAN
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Nomor
1. Broiler I/Makanan Ternak Bentuk Crumble ....................
2. Vitachick ...............................................................................
3. Cara Penghitungan Dosis FECH ......................................
4. Hasil Pengamatan Tanda Klinis Pada Ayam Broiler Yang
Terinfeksi (Dengan Skor) ...............................................
5. Hasil Pengamatan Tanda Klinis Pada Ayam Percobaan
Dengan Pemberian FECH ..............................................
6. Hasil Pengamataan Perlakuan Terhadap Nilai Daya
Tahan Hidup Setelah Terinfeksi (Dalam Persen) ..
7. Data Nilai Daya Tahan Hidup dan rangking Pada Ayam
Broiler Yang Terinfeksi Setelah Pemberian FECH ......
8. Nilai Daya Tahan Hidup dan Analisis Nilai Daya Tahan
Hidup Ayam Broiler Yang Terinfeksi ...........................
9. Tabel Harga-harga Kritis Chi Kuadrat dan Harga-harga
Kritis t ...............................................................................
ix
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR GAMBAR
Halaman
nomor
1. Tumbuhan Morinda citrifolia, Linn .................................
2. Daun, Bunga dan Buah Morinda citrifolia ......................
3A. Irisan Melintang Buah, Pengamatan Secara Makroskopis
3B. Irisan Membujur Buah, Pengamatan Secara Makroskopis
4. Struktur Kimia Antrakinon .............................................
x
BAB I
PENDAHULUAN
BAB I
PENDAHULUAN
Di dalam era reformasi yang merupakan pembangunan demokrasi tahap setelah era orde baru, pembangunan peternakan adalah bagian daripada pembangunan pertanian yang diarahkan pada perkembangan peternakan yang semakin maju, efisien dan tangguh melalui peningkatan usaha diversifikasi, intensifikasi, dan ekstensifikasi ternak, didukung oleh usaha pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang ditujukan untuk peningkatan hasil dan mutu produksi, peningkatan pendapatan dan taraf hidup peternak terutama dari peternakan rakyat, pelestarian sumber daya ternak, peningkatan gizi khususnya untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah rawan gizi melalui pemberantasan penyakit dengan cara memanfaatkan secara efisien segala sumber daya yang ada dan yang dapat dikembangkan.
Tumbuhan mengkudu, kunyit, temu lawak, temu hitam, temu giring, lempuyang, jahe, kencur, lengkuas, dan temu kunci dapat di tanam hampir diseluruh daearah di Indonesia, dan manfaatnya adalah mulai dari akar sampai daun dapat digunakan sebagai obat. Buah dan daunnya dikonsumsi sebagai makanan yang mengandung zat penyembuh penyakit tertentu.
Buah mengkudu, kunyit, temu lawak, temu hitam, temu giring, lempuyang, jahe, kencur, lengkuas, dan temu kunci adalah sebagian dari sekelompok hasil alam yang berguna sebagai tumbuhan obat dan dapat digunakan sebagai sumber obat-obat anti kuman, merupakan tumbuhan tropis umur panjang yang dapat dibudidayakan sebagai bahan obat, dan secara umum WHO (World Health Organization) menganjurkan pengobatan secara tradisioanal untuk pemeliharaan kesehatan.
Landasan Teori
Di dalam penelitian ini penulis menitik beratkan pada masalah obat. Harga obat yang masih cukup tinggi kadang-kadang menjadi hambatan bagi para peternak apabila ternaknya terjangkit suatu penyakit.
Dengan memperhatikan hasil penelitian Moorthy (1970), Thomson (1971) yang dikutip oleh Inoue et al. (1981), dan Koamesah (1984) bahwa zat kimia
2
yang terkandung di dalam buah pace terdiri atas glikosida antrakinon, glikosida sponin, dan minyak atsiri, maka diduga salah satu diantara zat-zat tersebut atau sinergisme daripada zat-zat tersebut dapat bekerja sebagai kemoterapi.
Dr. T Hiromatsu dan kawan-kawannya dari Keio University dan Institute of Biomedical di Jepang menemukan zat pencegah kanker dalam buah pace, yaitu damnacanthal. Penelitian di University of Hawaii juga menemukan adanya scopoletin pada buah pace. Scopoletin ini dapat melebarkan pembuluh darah yang menyempit sehingga meringankan beban jantung dalam menyalurkan darah ke seluruh tubuh dan menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi.
Dr. Ralph Electro dari University Kentucky, Lexington melakukan penelitian untuk Dole Pineapple Company, sebuah perusahaan obat-obatan kerja sama antara Jepang dan University Hawaii. Beliau menemukan bahan aktif dalamm pace, yaitu proxeronine. Proxironine merupakan bahan pembentuk xeronine. Xeronine adalah sejenis alkaloid yang mendorong scopoletin berfungsi lebih sempurna. Kebutuhan akan xeronine akan meningkat jika terdapat masalah kesehatan baik fisik maupun emosional, infeksi jamur, racun dan semakin bertambahnya usia. Dengan mengkonsumsi buah pace yang mengandung banyak proxeronine, maka kebutuhan xeronine dapat semakin terpenuhi.
Neil Solomon ,MD., Ph.D juga menjelaskan bahwa dalam buah pace terdapat kandungan zat antara lain serotonin, melatonin, anthraquinone. Serotonine bersama-sama dengan scopoletin akan meningkatkan aktivitas dari Pineal Gland (Glandula Pinealis) yang terdapat di dasar otak. Serotonin bekerja sama dengan melatonin bisa memperbaiki kualitas tidur, suhu tubuh, suasana hati, proses pubertas dan ovaryan cycles (siklus yang diperankan oleh indung telur). Anthraquinone merupakan zat yang anti bakteri, selain itu juga dapat menstimulasi sistem pencernaan.
Menurut Dr. Mona Harrison, M.D. dari Boston University School of Medicine, buah pace meningkatkan fungsi Thyroid dan kelenjar Thymus. Hal ini
3
bermanfaat untuk meningkatkan daya tahan tubuh dalam melawan infeksi. Beliau juga mengatakan bahwa buah pace dapat mengatasi depressi,
menstabilkan kadar gula darah, mengurangi frekuensi buang air kecil malam hari pada penderita prostat, mengobati varises, kanker ginjal dan kanker hati.
Sebenarnya tujuan yang utama menanam pohon mengkudu untuk memperoleh bahan pewarna, namun kemudian dapat digunakan sebagai obat-obatan , misalnya menghilangkan rasa nyeri karena masuk angin, sakit perut, sakit royan untuk wanita yang baru melahirkan, maka daun yang terlebar dan terbesar diolesi dengan minyak kemudian sipanasi dan selanjutnya diikatkan di atas perut dan pinggang. Sari buah diambil dengan cara memeras buah dan disaring dengan kain dan diberi sedikit kapur kemudian untuk minum satu gelas besar setiap hari dapat memperlancar buang air kecil. Buah digiling bersama cuka kemudian diminum untuk menyembuhkan limpa bengkak. Buah yang masak digunakan untuk menyembuhkan ludah berdarah; Juga orang-orang jawa menggunakan buah tersebut untuk menghilangkan sengatan-sengatan yang menyakitkan di bagian pinggang. Menurut Boorsma yang dikutip oleh Heyne buahnya dimakan untuk menyembuhkan penyakit gula. Buah yang diolah berupa petis menggunakan gula jawa dan sambal merupakan obat yang terbaik untuk menyembuhkan penyakit beri-beri. Sari buah mengkudu dapat menyembuhkan penyakit hati, dan sari buah ditambah sedikit gula dapat menyembuhkan batuk. Air rebusan buah digunakan untuk membersihkan luka-luka. Buah yang setengah masak dimakan sebagai rujak, sedangkan buah yang masak digunakan sebagai bahan pembersih, misalnya rambut kepala, untuk menghilangkan karat pada bahan-bahan dari logam dengan cara merendam selama 2 sampai 3 hari pada air buah mengkudu. Menurut Veltman yang dikutip oleh Heyne bahwa air perasan buah mengkudu dapat sebagai obat pemutih.
Kegunaan yang lain tumbuhan mengkudu adalah, bahwa buahnya sebagai bahan obat tradisional dari penyakit-penyakit hipertensi, hipotensi, oedema, konstipasi, dan timpani. Buah yang masak dapat dipakai untuk pengobatan radang tenggorokan dan penderita narkotika (Hegnauer, 1973 dan Soewandi dkk. 1988).
4
Perasan buah segar dapat menurunkan tekanan darah sistemik yang diakibatkan adanya vasodilatasi perifer (Chuseri dkk. 1975).
Menurut Djojosugito dkk. (1975) bahwa diduga karena adanya dua komponen dalam dalam ekstrak perasan buah pace yang belum diketahui atau/dan dalam pembuluh darah yang meneyebabkan ekstrak daging buah tersebut mempunyai pengaruh hipotensif.
Sediaan perasan buah pace berpengaruh langsung pada otot-otot jantung dengan terlihatnya hambatan kontraksi otot jantung. Penggunaan buah pace sebagai penurun tekanan darah dapat berdasarkan pada terjadinya vasodilatasi perifer dan adanya pengaruh pada jantung (Harijanto, 1977).
Rimpang tanaman kunyit bermanfaat sebagai pencegah kanker , anti tumor , dan menurunkan kadar lemak darah dan kolesterol.
Temulawak telah lama diketahui mengandung senyawa kimia yang mempunyai keaktifan fisiologi, yaitu kurkuminoid dan minyak atsiri. Kurkuminoid terdiri atas senyawa berwarna kuning kurkumin dan turunannya. Kurkuminoid yang memberi warna kuning pada rimpang bersifat antibakteria, anti-kanker, anti-tumor dan anti-radang, mengandungi anti-oksidan dan hypokolesteromik. Sedangkan minyak atsiri berbau dan berasa yang khas. Kandungan minyak atsiri pada rimpang temulawak 3-12% Sedangkan untuk kurkuminoid, dalam temulawak 1-2%. Untuk menentukan persentase ini dilakukan pemanasan pada temperatur 50-55o C , supaya tidak merusak zat aktifnya dan untuk mendapatkan warna yang baik dari kurkuminoid.
Kajian dan penyelidikan atas temulawak (Curcuma xanthorrhiza) membuktikan bahawa rimpangnya mengandungi banyak zat kimiawi yang memberikan kesan positif terhadap organ dalam manusia seperti empedu, hati dan pankreas. Pengaruhnya keatas empedu ialah dapat mencegah pembentukan batu dan kolesistisis. Dalam hati, zat temulawak merangsang sel hati membuat empedu, mencegah hepatatis dan penyakit hati, membantu menurunkan kadar SGOT dan SGPT dan sebagai anti-hepatotoksik. Selain itu, ia dapat merangsang fungsi
5
pankreas, menambah selera makan, berkemampuan merangsang perjalanan sistem hormon metabolisme dan fisiologi tubuh.
Temulawak berkhasiat untuk mencegah dan mengatasi beraneka macam penyakit. Berbagai khasiat dari temulawak, antara lain, gangguan lever, mencegah hepatitis, meningkatkan produksi cairan empedu, membantu pencernaan, mengatasi radang kandung empedu, radang lambung dan gangguan ginjal.
Temu hitam (Curcuma aeruginosa roxburg) merupakan salah satu obat tradisional yang telah lama dikenal dan dibudidayakan secara luas sebagai bahan baku obat. Curcuma aeruginosa roxburg mengandung curcumin dan minyak atsiri yang dapat digunakan untuk menambah nafsu makan dan memacu pertumbuhan. Bahan-bahan yang terkandung di dalam temu hitam dapat digunakan sebagai feed suplement (feed additiv) dalam pakan ayam buras (Gallus domesticus), tepung temu hitam berpengaruh terhadap kesehatan ternak, pertumbuhan, produktivitas, meningkatkan efisiensi pakan dan memperbaiki daya
cerna pakan.
6
Perumusan Masalah
Dalam penelitian ini diketengahkan suatu masalah yaitu bagaimana daya antibakterial formulasi extrak cair buah pace, kunyit, temulawak, temu hitam, temu giring, lempuyang, jahe , kencur, lengkuas, dan temu kunci terhadap daya tahan tubuh ayam terhadap kesehatan ayam selama satu periode pemeliharaan (40 hari) dan pada masa-masa infeksi (kontaminasi) penyakit.
Tujuan Penelitian
Penelitian ditujukan untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh Formulasi Ekstrak Cair Herbal pace , kunyit, temu lawak, temu hitam, temu giring, lempuyang, jahe , kencur , lengkuas, dan temukunci terhadap ayam yang diinfeksi dengan cara dikontaminasi dengan ayam sakit.
Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini diharapkan memperoleh masukan baru bahwa Formulasi Ekstrak Cair Herbal pace, kunir, temu lawak, temu hitam, temu giring, lempuyang, jahe, kencur, lengkuas , dan temu kunci dapat digunakan untuk memelihara kesehatan ayam potong dan juga mampu mengatasi ayam-ayam yang sedang dalam masa infeksi.
Hipotesa yang dapat diajukan pada penelitian ini adalah :
H01 : pemberian formulasi extrak cair buah pace , kunir, temu lawak, temu hitam,
temu giring, lempuyang. Jahe, kencur , lengkuas , dan temu kunci tidak dapat
menjaga kesehatan ayam potong dalam masa-masa infeksi
H02 : tidak terdapat perbedaan khasiat pada pemberian formulasi extrak cair buah
pace, kunir, temu lawak, temu ireng, temu giring, lempuyang, jahe, kencur ,
lengkuas , dan kunci terhadap nilai pertahanan tubuh pada ayam potong yang
diinfeksi dengan sesuatu penyakit jika dibanding dengan pemberian obat
paket.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Mengkudu (Morinda citrifolia, Linn)
Sistematika
Susunan sistematika tumbuhan mengkudu adalah sebagai berikut (Heyne, 1950; Strassburger et al. 1958; Backer dan Brink, 1963; Jones dan Luchsinger, 1986) :
Kerajaan : Plantae
Divisi : Spermatophyta/Antophyta
Anak divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae/Arcichlamydeae
Anak kelas : Sympetalae
Bangsa : Tetracyclicae
Anak bangsa : Rubiales/gentiales/Dicotyledones
Suku : Rubiaceae
Marga : morinda
Jenis : M. citrifolia, Linnaeus.
8
Gambar 1. Daun, bunga dan buah mengkudu (Morinda citrifolia,
Linn).
M. citrifolia, Linn di Indonesia dkenal dengan berbagai nama daerah seperti Enggano : udu, eru; Aceh : keumudu; Gayo : lengkudu ; Alas : bangkudu ; Bata: bengkudu (Karo) , bangkudu ; (Toba) , bakudu (Angkola) , pamarai (Mandailing) ; Nias : makudu ; lampung : mekudu ; Dayak : manakudu (ngaju), wangkudu (Olong manyan) , labanau/rewonong (Ot-danum) ; Jawa : kudu, cangkudu (Sunda), bentis (Kediri) ; madura : kodhuk ; Bali : tibah , wangkudu ; Sumba : Ai-kombo ; Banjar : bingkudu ; maluku : bangkudu, mengkudu ; mentawai : neteu ; Minangkabau : bingkudu , mengkudu ; Roti : manakudu ; Timor : Bakulu ; Untuk nama Indonesia digunakan istilah mengkudu (Heyne, 1950; Steenis dan Kruseman, 1978).
9
Di Jombang dikenal dengan nama kudu untuk buahnya yang masih muda dan untuk buahnya yang hampir atau sudah masak (lunak) biasanya disebut dengan pace.
Uraian Tumbuhan
M. citrifolia menurut Heyne (1950) , Backer dan Brink (1963) , Esau (1964), Steenis (1981) dan Hoeve (1983) penelitian mengenai habitat, bunga, daun, dan buah adalah sebagai berikut :
H a b i t a t
Mengkudu merupakan tumbuhan yang mudah tumbuh dan mudah dikenal disebagian besar daerah di Indonesia. Dapat ditanam di pelataran-pelataran rumah sebagai tumbuhan sayuran, tumbuhan obat, kadang-kadang ditanam di kebun-kebun untuk penunjang. Dapat tumbuh liar di hutan-hutan sampai ketinggian 500 meter sampai 1000 meter di atas permukaan laut. Merupakan tanaman perdu dengan tinggi 3 meter sampai 8 meter, berbatang licin dan berwarna kekuningan, berserabut padat serta cabang dan ranting tumbpul.
B u n g a
Bunga berwarna putih sdan berbau harum, nerupakan bunga majemuk yang tersusun dalam karangan bunga bentuk terompet yang terdapat pada ketiak daun. Bunga mempunyai mahkota yang berbentuk terompet berambut halus atau berbentuk tabung yang tebal dengan panjang tabung kurang lebih satu meter. Benang sari 5 helai dan tumbuh
jadi satu dengan mahkota bunga. Tangkai sari berambut halus . bakal buah tenggelam. Bunga bersilangan lima atau enam.
D a u n
Daun tunggal lebar, tebal, bentuk ellips atau bulat telur. Duduk daun berhadapan bersilanagan pada ruas abatang. Tepi daun rata, denagan ujung daun runcing. Tulang daun menyirip, daing daun tebal.
10
Permukaan bagian atas licin berwarna hijau kekuningan, panjang daun 10 cm sampai 31 cm dan lebar daun 5 cm sampai 17 cm. Daun penumpu lebar mamanjang atau berbentuk bulan sabit terletak diantara tangkai daun.
B u a h
Buah buni majemuk sebesar telur ayam atau lebih berbentuk bulan atau bulat telur dengan permukaan tidak rata dan berbenjol-benjol. Ada pula yang berbentuk segi lima atau segi enam. Kelompok-kelompok yang tetap tinggal dan menjadi deaging buah. Pada kulit buah terdapat kutil-kutil suatu muda berwarna hijau apabila sudah masak berwarna kuning kotor atau kuning keruh atau putih keruh. Berdaging lunak dan bergetah dan berbau khas seperti keju busuk. Berbiji banayak dengan bentuk segi tiga memanjang berwarna merah kehitaman dan keras. Perkembangbiakan dilakukan dengan biji , yang perlu disemaikan terlebih dahulu. Tanaman tumbuh dengan cepat akan mulai menghasilakn buah sesudah berumur tiga sampai empat tahun.
Pada pengamatan anatomi buah tampak saluran minyak. Trakhea/trakheida dengan penebalan tangga dan spiral, serta berkas-berkas pengangkutan di daerah mesokorpium (Koamesah, 1984)
K a n d u n g a n t u m b u h a n
Moorthy (1970) menyatakan bahwa zat yang terkandung di dalam buah M. citrifolia terdiri atas minyak terbang kuning 90 persen terdiri sedangh dalam kulit akar dan batang mengandung beberapa turunan antrakinon, morindon atau morindadiol (C15H10O5) dan Soranjidiol.
Menurut Thomson (1971) buah M. citrifolia salah satu tumbuhan
Dari suku rubiaceae berisi tiga belas antrakinon meliputiu glikosida (Inoue et al. 1981) ; glikosida salah satu zat yang sangat aktif yang umum terdapat pada tumbuhan.
Menurut Balakrishna (1961) zat-zat yang terkandung di dalam tumbuhan M. citrifolia terdiri atas Damnacanthal, rubiadin-1-metil eter , alizarin , morindon , dan antragallol-2,3-dimetileter (Hegnauer, 1973).
11
Moorthy (1970) , Hegnauer (1973) , dan Inoue et al. (1981) mendapatkan adanya glikosida antrakinon pada akar, kulit batang, dan daun, dan Koamesah (1984) mendapatkan adanya glikosida antrakinon, glikosida saponin, dan minyak atsiri pada buah, dan dari hasil spektografi absorbsi sinar merah infra terhadap golongan antrakinon menunjukkan adanya gugus -Oh , CH , CH2 , CH3¬ , C-O , -C-O , -C-O-C- , C-OH , -C-C- , -C-H dan AR-H.
Tumbuhan M. citrifolia mengandung nordamnacanthal sebanyak 1,7 persen, dan morindon sebanyak 0,5 persen. Zat-zat lain terdiri atas rubiadin, rubiadin-1-metileter. Soranjidiol , morindon glikosid , rubiadin glikosid, rubiadin-1-metileter glikosid, soranjidiol glikosid dan turunan damnacanthal (Hegnauer, 1973).
Menurut Zenk, El-Shagi dan Schulte (1975) antrakinon merupakan salah satu komposisi yang terdapat dalam buah M., citrifolia, dan menurut Leistner (1975) senyawa antrakinon tersebut terdiri atas alizarin (1,2-dihidroksi-9,10-antrakinon), rubiadin , lusidin , nordamnacanthal, dan morindon (Inoue et al. 1981).
Hasil ekstraksi dan isolasi kinona yang terdapat pada komposisi yang terdapat dalam tumbuhan M. citrifolia didapat lima antrakinon terdiri atas rubiadin (C15¬ H10 O4), lusidin dan morindon (C15 H10 O5) , lusisin-3-β-primeverosid (C26 H28 O14 H2O) ;
12
Curcuma
Sistematika
Susunan sistematika tumbuhan Curcuma adalah sebagai berikut (Soesilo, S. et al. 1989. Vademekum. Bahan Obat Alam. DepartemenKesehatan Republik Indonesia ; Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan danTeknologi MIG Corp. )
Dunia : Plantae
Anak dunia : Tracheobionta
Divisi : Spermatophyta/Antophyta/Magnoliophyta
Anak divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Anak kelas : Liliopsida/monokotil
Bangsa : Zingiberales
Anakbangsa : Commelinidae
Suku : Zungiberaceae
Marga : Curcuma
Jenis : 1. Kunyit/Curcuma domestica Val.
2. Temulawak/C. xanthorrhiza
3. Temuhitam/C. aeruginosa Roxb.
4. temugiring/C. Heyneana val. & V
Kunyit (Curcuma domestica Val.)
Uraian Tumbuhan
Kunyit merupakan tanaman obat berupa semak dan bersifat tahunan (perenial) yang tersebar di seluruh daerah tropis. Tanaman kunyit tumbuh subur dan liar disekitar hutan/bekas kebun. Diperkirakan berasal dari Binar pada ketinggian 1300-1600 m dpl, ada juga yang mengatakan bahwa kunyit berasal dari India. Kata Curcuma berasal dari bahasa Arab Kurkum dan Yunani Karkom. Pada tahun 77-78 SM, Dioscorides menyebut tanaman ini sebagai Cyperus menyerupai jahe, tetapi
13
pahit, kelat, dan sedikit pedas, tetapi tidak beracun. Tanaman ini banyak dibudidayakan di Asia Selatan khususnya di India, Cina Selatan, Taiwan, Indonesia (Jawa), dan Filipina. Tanaman kunyit tumbuh bercabang dengan tinggi 40-100 cm. Batang merupakan batang semu, tegak, bulat, membentuk rimpang dengan warna hijau kekuningan dan tersusun dari pelepah daun (agak lunak). Daun tunggal, bentuk bulat telur (lanset) memanjang hingga 10-40 cm, lebar 8-12,5 cm dan pertulangan menyirip dengan warna hijau pucat. Berbunga majemuk yang berambut dan bersisik dari pucuk batang semu, panjang 10-15 cm dengan mahkota sekitar 3 cm dan lebar 1,5 cm, berwarna putih/kekuningan. Ujung dan pangkal daun runcing, tepi daun yang rata. Kulit luar rimpang berwarna jingga kecoklatan, daging buah merah jingga kekuning-kuningan.
Kandungan tumbuhan
Minyak atsiri mengandung siko-isoren , mirsein , d-kamfer p-tumerol metikarbonal , zat warna kurkumin , felandrena , turmerol dan pati.
Penggunaan tumbuhan Di daerah Pulau jawa, kunyit banyak digunakan sebagai ramuan jamu karena berkahasiat menyejukkan, membersihkan, mengeringkan, menghilangkan gatal, dan menyembuhkan kesemutan. Manfaat utama tanaman kunyit yaitu : sebagai bahan obat tradisional , bahan baku industri jamu, dan kosmetik, bahan bumbu masak , peternakan dll.
14
Temulawak (Curcuma xanthorrhiza)
Uraian tumbuhan
Nama daerah Sunda adalah Koneng gede ; Madura : temolabak
Temulawak mengandung minyak atsiri dan kurkuminoid. Temulawak banyak ditemukan di hutan-hutan daerah tropis. Temulawak juga berkembang biak di tanah tegalan sekitar pemukiman, terutama pada tanah gembur, sehingga buah rimpangnya mudah berkembang menjadi besar.
15
a. AKAR
Akar rimpang terbentuk dengan sempurna dan bercabang kuat, berwarna hijau gelap. Rimpang induk dapat memiliki 3-4 buah rimpang. Warna kulit rimpang cokelat kemerahan atau kuning tua, sedangkan warna daging rimpang oranye tua atau kuning. Rimpang temulawak terbentuk di dalam tanah pada kedalaman sekitar 16 cm. Tiap rumpun umumnya memiliki 6 buah rimpang tua dan 5 buah rimpang muda. Rimpang Temulawak sangat berkhasiat untuk antiradang, anti keracunan empedu, penurun kadar kolesterol, diuretic (peluruh kencing), penambah ASI, tonikum, dan penghilang nyeri sendi.
b. BATANG
Temulawak termasuk jenis tumbuh-tumbuhan herba yang batang pohonnya berbentuk batang semu dan tingginya dapat mencapai 2 sampai 2,5 meter berwarna hijau atau cokelat gelap. Pelepah daunnya saling menutupi membentuk batang.Tumbuhan yang patinya mudah dicerna ini dapat tumbuh baik di dataran rendah hingga ketinggian 750 meter di atas permukaan laut. Umbi akan muncul dari pangkal batang, warnanya kuning tua atau coklat muda, panjangnya sampai 15 sentimeter dan bergaris tengah 6 sentimeter. Baunya harum dan rasanya pahit agak pedas.
c.DAUN
Tiap batang mempunyai daun 2 – 9 helai dengan bentuk bundar memanjang sampai bangun lanset, warna daun hijau atau coklat keunguan terang sampai gelap,panjang daun 31 – 84cm dan lebar 10 – 18cm, panjang tangkai daun termasuk helaian 43 – 80cm. Mulai dari pangkalnya sudah memunculkan tangkai daun yang panjang berdiri tegak. Tinggi tanaman antara 2 sampai 2,5 m. Daunnya bundar panjang , mirip daun pisang.
16
d.Bunga
Temulawak mempunyai bunga yang berbentuk unik (bergerombol) dan. bunganya berukuran pendek dan lebar, warna putih atau kuning tua dan pangkal bunga berwarna ungu. Bunga mejemuk berbentuk bulir, bulat panjang, panjang 9-23 cm, lebar 4-6 cm. Bunga muncul secara bergiliran dari kantong-kantong daun pelindung yang besar dan beraneka ragam dalam warna dan ukurannya. Mahkota bunga berwarna merah. Bunga mekar pada pagi hari dan berangsur-angsur layu di sore hari Kelopak bunga berwarna putih berbulu, panjang 8 – 13mm, mahkota bunga berbentuk tabung dengan panjang keseluruhan 4.5cm, helaian bunga berbentuk bundar memanjang berwarna putih dengan ujung yang berwarna merah dadu atau merah, panjang 1.25 – 2cm dan lebar 1cm.
e. Buah
Aroma dan warna khas dari rimpang temulawak adalah berbau tajam dan daging kuningan. Warna kulit rimpang cokelat kemerahan atau kuning tua, sedangkan warna daging rimpang oranye tua atau kuning.
f. Biji
Sejauh ini, temulawak belum pernah dilaporkan menghasilkan biji. Karena penanaman temulawak dengan cara menanam rimpang temulawak tersebut. Perbanyakan tanaman temulawak dilakukan menggunakan rimpang rimpangnya baik berupa rimpang induk (rimpang utama) maupun rimpang anakan (rimpang cabang).
Bahan berkhasiat tanaman obat adalah senyawa organik, yang kandungan utamanya adalah karbon. Jika dihipotesiskan bahwa fotosintesis 14CO2 pada tanaman temulawak akan menghasilkan karbohidrat sederhana yang mengandung
17
14C, pada proses biosintesis lanjut akan dihasilkan komponen berkhasiat obat (minyak atsiri dan kurkuminoid) yang bertanda 14C. Yang menjadi masalah pada studi ini adalah bagaimana mengelola proses fotosintesis 14CO2 tersebut untuk mendapatkan produk bertanda radioaktif 14C.
Komposisi kimia dari rimpang temulawak adalah protein pati sebesar 29-30 persen, kurkumin satu sampai dua persen, dan minyak atsirinya antara 6 hingga 10 persen. Daging buah (rimpang) temulawak mempunyai beberapa kandungan
senyawa kimia antara lain berupa fellandrean dan turmerol atau yang sering disebut minyak menguap. Kemudian minyak atsiri, kamfer, glukosida, foluymetik karbinol.
Temulawak mengandung minyak atsiri seperti limonina yang mengharumkan, sedangkan kandungan flavonoida-nya berkhasiat menyembuhkan radang. Minyak atsiri juga bisa membunuh mikroba. Buahnya mengandung minyak terbang (anetol, pinen, felandren, dipenten, fenchon, metilchavikol, anisaldehida, asam anisat, kamfer), dan minyak lemak.
Komponen utama rimpang temulawak:
• Pati 48.18% - 59.64% - membantu proses metabolisma dan fisiologi organ badan.
• Protin 29.00% - 30.00%
• Abu 5.26% - 7.07%
• Serat 2.58% - 4.83% - memulihkan kebugaran badan (bersifat tonik)
• Kurkumin 1.60% - 2.20% - melancarkan proses pencernaan tubuh
• Minyak asiri 6.00% - 10.00% - meningkatkan fungsi ginjal
• Phelandren - melancarkan pengeluaran toksik dalam tubuh melalui air kencing
• Kamfer
• Turmerol - membantu proses metabolisme
18
• Borneol - memulihkan kesehatan tubuh badan akibat serangan penyakit
• Sineal
• Xanthorrhizol
19
Temu hitam (Curcuma aeruginosa roxburg)
Uraian tumbuhan
Temu hitam merupakan salah satu obat tradisional yang telah lama dikenal dan dibudidayakan secara luas sebagai bahan baku obat. Curcuma aeruginosa roxburg mengandung curcumin dan minyak atsiri yang dapat digunakan untuk menambah nafsu makan dan memacu pertumbuhan. Bahan-bahan yang terkandung di dalam temu hitam dapat digunakan sebagai feed suplement (feed additiv) dalam pakan ayam buras (Gallus domesticus), tepung temu hitam berpengaruh terhadap kesehatan ternak, pertumbuhan, produktivitas, meningkatkan efisiensi pakan dan memperbaiki daya
cerna pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian tepung temu hitam terhadap konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, konversi pakan, dan daya cerna pakan pada ayam buras .
20
Temugiring ( Curcuma heyneana)
Uraian tumbuhan
Habitus: Semak, semusim, tegak, tinggi ± 1 m.Batang : Semu, terdiri dari pelepah daun, tegak, permukaan licin, membentuk rimpang, hijau muda.Daun: Tunggal, permukaan licin, tepi rata, ujung dan pangkal runcing, panjang 40-50 cm, lebar 15-18 cm, pertulangan menyirip, pelepah 25-35 cm, hijau muda.
Bunga : Majemuk, berambut halus, panjang 15-40 cm, kelopak hijau muda, pangkal merunctng, ujung membulat, mahkota kuning muda, hijau muda.
Akar : Akar serabut, kuning kotor.
Temu giring merupakan suatu tumbuhan tahunan. Tumbuhan temu giring memiliki ketinggian mencapai 2 meter. Temu giring tumbuh liar di hutan-hutan, terutama pada hutan jati. Herba temu giring memiliki rimpang yang tumbuh menyebar ke kiri dan kanan batang secara memanjang sehingga terlihat kurus dan bengkok ke bawah. Rimpang bagian samping umumnya memiliki rasa yang lebih pahit, dan bila dibelah akan terlihat dagingnya yang berwarna kuning dan berbau aromatis khas temu giring.
Temu giring oleh masyarakat Jawa Timur maupun Jawa Tengah telah sejak lama dimanfaatkan sebagai obat untuk kecantikan yang dikenal sebagai lulur yang bermanfaat untuk menghaluskan kulit, dan banyak manfaat lainnya bagi masyarakat yang peduli terhadap kesehatan.
Kandungan kimia temu giring adalah minyak atsiri, amilun, damar, lemak, tannin dan lainnya.
Manfaat
Untuk pemakaian luar dapat menggunakan temu giring secukupnya, dihaluskan lalu dibalutkan pada bagian yang sakit. Sedangkan untuk pemakaian dalam, gunakan 5-20 gram temu giring direbus dengan air secukupnya lalu disaring dan airnya diminum selagi hangat.
21
Luka pada kulit atau koreng. Gunakan temu giring yang telah diparut, tambahkan santan kelapa secukupnya, bubuk tawas secukupnya lalu diaduk rata dan ditempelkan pada bagian yang luka.
Menghaluskan kulit. Gunakan 50 gram temu giring, 30 gram daun kemuning, 25 gram kulit jeruk mandarin kering, 150 gram beras yang telah direndam hingga empuk, semua bahan ditumbuk halus. Ambil 1-2 sendok makan bubuk tersebut, tambahkan air secukupnya lalu balurkan pada kulit tubuh sambil digosok-gosok hingga kotoran keluar. Lakukan sebelum mandi.
10 gram temu giring yang dihaluskan, tambahkan air mawar secukupnya. Ketan hitam yang telah direndam dihaluskan, kemudian dibalurkan pada bagian kulit tubuh dengan menggosok-gosokan pada kulit hingga keluar kotoran dari kulit. Lakukan secara teratur 2-3 kali seminggu.
Perasaan tidak tenang atau cemas. Gunakan 15 gram temu giring diiris tipis, 30 gram daun kemuning, 30 gram pacar air direbus dengan 400 cc air hingga tersisa 200 cc, lalu disaring dan diminum airnya selagi hangat. Lakukan pada pagi hari.
Jantung berdebar-debar. Gunakan 5 gram temu giring dipotong-potong, 3 siung bawang merah, 5 gram pulasari, 1 sendok teh adas, 5 butir angco yang telah dibuang bijinya. Semua bahan tersebut direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, lalu diminum dua kali sehari masing-masing 150 cc.
Menghaluskan kulit. Gunakan 10 gram temu giring diparut, tambahkan 50 cc air masak lalu diperas. Kemudian air perasan tersebut ditambahkan madu secukupnya, lalu aduk rata dan diminum. Lakukan secara teratur 2kali sehari.
Disentri. Gunakan 10 gram temu giring dipotong-potong, 5 gram daun delima putih muda, 5 gram adas, 1 jari pulasari ditumbuk hingga halus. Kemudian diseduh dengan 200 cc air mendidih lalu disaring dan airnya diminum selagi hangat.
22
Berat badan pada anak menurun. Gunakan 5 gram temu giring, 20 gram daun kemuning, 20 gram daun pacar kuku direbus dengan 800 cc air hingga tersisa 450 cc. Kemudian disaring dan airnya diminum 3 kali sehari masing-masing 150 cc.
Cacingan. Gunakan 5 gram temu giring diparut, tambahkan 100 cc air panas dan diamkan selama kurang lebih 2 jam, kemudian disaring dan airnya diminum pagi hari sebelum makan. Atau gunakan 10 gram temu giring, 10 gram temu hitam, 10 gram lempuyang wangi, 7 gram adas direbus dengan air secukupnya hingga mendidih, disaring. Lalu airnya diminum pagi hari sebelum sarapan.
Sembelit. Gunakan 10 gram temu giring, 1 jari pulasari, 5 gram adas, gula merah secukupnya direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc lalu disaring dan airnya diminum. Lakukan 2 kali sehari masing-masing 150 cc.
Rimpang Curcuma heyneana berkhasiat sebagai obat cacing pada anak-anak, di samping itu untuk bahan kosmetika. Temu hitam mengandung curcuminoid dan paling banyak di antara spesies curcuma yang lain. Curcuminoid content sebagai berikut: (menggunakan HPLC-photodiode array detection) (Bosh, 2007)
0.18-0.47% untuk C. mangga (temu mangga)
0.98-3.21% untuk C. heyneana (temu giring)
0.02-0.03% untuk C. aeruginosa (temu ireng)
0.40% untuk C. soloensis (temu glenyeh)
Curcuma heyneana
Fraksi etil asetat menunjukkan aktivitas penghambatan lebih dari 50% terhadap metabolisme enzim CYP3A4 sebesar 67,0%. Hasil ini mengindikasikan kemungkinan munculnya interaksi obat-bahan alam sehingga perlu dilakukan pemantauan pada saat pemakaian dengan obat lain (Usia et al., 2005). Kandungan lain dari Curcuma heyneana adalah zedoarondiol, suatu sesquiterpene lactone, menghambat iNOS, COX-2, dan ekspresi pro-inflammatory cytokine dengan penekanan pada fosforilasi IKK dan MAPKs, dan kemudian menon-aktifkan jalur NF-kappaB (Cho et al., 2009).
23
24
Lempuyang (Zingiber zerumbet )
Sistematika
Susunan sistematika tumbuhan lempuyang adalah sebagai berikut (Soesilo, S. et al. 1989. Vademekum. Bahan Obat Alam. DepartemenKesehatan Republik Indonesia ; Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan danTeknologi MIG Corp. )
Dunia : Plantae/vegetabile/tumbuhan
Anak dunia : Tracheobionta/tumbuhan berpembuluh
Divisi : Spermatophyta/Antophyta/menghasilkan
biji
Magnoliophyta/tumbuhan berbunga
Anak divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Anak kelas : Liliopsida/monokotil/berkeping satu
Ordo : Zingiberales
Anak ordo : Commelinidae
Suku : Zingiberaceae/jahe-jahean
Marga : Zingiber
Jenis : Zingiber zerumbet
25
Jahe (Zingiber Officinale)
Sistematika
Susunan sistematika tumbuhan jahe adalah sebagai berikut (Soesilo, S. et al. 1989. Vademekum. Bahan Obat Alam. DepartemenKesehatan Republik Indonesia ; Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi MIG Corp. )
Dunia : Plantae/vegetabile/tumbuhan
Anak dunia : Tracheobionta/tumbuhan berpembuluh
Divisi : Spermatophyta/Antophyta/menghasilkan
biji
Magnoliophyta/tumbuhan berbunga
Anak divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Anak kelas : Liliopsida/monokotil/berkeping satu
Ordo : Zingiberales
Anak ordo : Commelinidae
Suku : Zingiberaceae/jahe-jahean
Marga : Zingiber
Jenis : Zingiber officinale
26
Para peneliti telah menemukan bahwa jahe juga efektif dalam mengatasi berbagai penyakit mulai dari kanker hingga migrain.
Jahe efektif dalam pengobatan kanker indung telur. Sebuah studi yang dilakukan di University of Michigan Comprehensive Cancer Center, seperti yang dikutip situs healthdiaries menemukan, tepung jahe efektif membunuh sel-sel kanker yang terdapat pada indung telur.
Sebuah studi dari Universitas Minnesota menemukan, jahe bisa memperlambat pertumbuhan sel-sel kanker kolorektal.
Hasil review dari beberapa studi menunjukkan, jahe juga sama efektifnya dengan vitamin B6 dalam mengatasi mual yang dipicu oleh kehamilan.
Anda sering pusing-pusing dan mual saat bepergian dengan mobil atau kendaraan
Jahe terbukti efektif mengatasi mual saat bepergian dengan kendaraan.
27
kencur (Kaempferia Galanga) Sistematika Susunan sistematika tumbuhan jahe adalah sebagai berikut (Soesilo, S. et al. 1989. Vademekum. Bahan Obat Alam. DepartemenKesehatan Republik Indonesia ; Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi MIG Corp. ) Dunia : Vegetabile Divisi : Spermatophyta/Antophyta Anak divisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledoneae/Arcichlamydea Anak kelas : Sympetalae Bangsa : Tetracyclicae Anak bangsa : Rubiales/gentiales/dicotyledones
Suku : Kaempferia Marga : Kaempferia galanga
28
Kencur memiliki banyak manfaat untuk mengobati berbagai macam penyakit seperti radang lambung, radang anak telinga, influenza pada bayi, masuk angin, sakit kepala, batuk, menghilangkan darah kotor, diare, memperlancar haid, mata pegal, keseleo, dan kelelahan.
Kandungan kimia yang terdapat di dalam rimpang kencur adalah pati (4,14%), mineral (13,73%), dan minyak astiri (0,02%) berupa sineol, asam metal kanil dan penta dekaan, asam cinnamic, ethyl aster, asam sinamic, borneol, kamphene, paraeumarin, asam anisic, alkaloid, dan gom
Rimpang: sebagai peluruh dahak/untuk menanggulangi batuk, peluruh kentut, penambah nafsu makan, menyembuhkan sariawan, bumbu masak, pemacu keluarnya air susu ibu (AS1),
Untuk peluruh kentut, dibuat sediaan "juice" yang terdiri dari 3 jari rimpang; diminum untuk dosis tunggal, dibuat "tapal" dari sejumlah rimpang dan ditempelkan pada perut , dibuat infusa yang terdiri dari 25 gram serbuk rimpang kering dengan 100 ml air mendidih, didiamkan sampai keadaan hangat; setelah disaring, diminum sebagai dosis tunggal.
Sebagai penambah nafsu makan , dibuat infusa yang terdiri dari 3 buah rimpang dan 110 ml air; atau diseduh, diminum 1 kali sehari 100 ml, diulang selama 14 hari.
Sebagai pemacu keluarnya air susu ibu (ASI) , 20 gram rimpang temu kunci, dipotong kecil-kecil, direbus dengan 1 gelas air selama 15 menit; kemudian ditambah 1/4 sendok teh garam dapur, setelah dingin disaring dan diminum sekaligus.
Komposisi :
Rimpang 1,2% minyak atsiri (rimpang segar 0,06% - 0,32% minyak atsiri); komponen utama minyak atsiri terdiri dari monoterpen, seskuiterpen, turunan fenilpropana antara lain: geranial, neral, kamfora, zingiberen, d-pinen, kamfen, 1,8-sineol (eukaliptol), d-borneol, geraniol, osimen, dimetoksi-4(2-propenil), miristin, linalil propanoat, asam sinamat, kamfen hidrat, propenil guaikol, dihidrokarveol, linalool; etil-sinamat, etil pmetoksi sinamat, panduratin A. - Asam kavisinat -flavonoid: pinosembrin (2,3-dihidrokrisin), 2',6'dihidroksi-4'-metoksi kalkon, pinostrobin (5hidroksi-7-metoksi flavanon), alpinetin, kardamomin, 2',4'-dihidroksi-
29
6'-metoksi kalkon, boesenbergin A, 5,7-dimetoksiflavon. Pada jenis tumbuhan dengan: rimpang berwarna merah: pinostrobin, boesenbergin A, panduratin rimpang berwarna putih : 0,36% krotepoksid rimpang berwarna hitam: pinostrobin, 5,dimetoksi-flavon, 5-hidroksi-7-metoksi-flavon dan 5-hidroksi-7,4'-dimetoksiflavon, 5,7,3',4'tetrametoksiflavon; kaemferol-3,7,4'-trimetil eter; kuersetin-3,7,3',4-tetrametil eter.
Lengkuas (Alpinia galanga) Sistematika Dunia : Plantae/vegetabile Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Zingiberales
Suku : Zingiberaceae
Anak suku : Alpinioideae
Bangsa : Alpinieae
Marga : Alpinia
Jenis : A. galanga
30
Uraian tumbuhan Lengkuas atau laos (Alpinia galanga) adalah rempah-rempah populer dalam tradisi boga dan pengobatan tradisional Indonesia maupun daerah Asia Tenggara lainnya. Bagian yang dimanfaatkan adalah rimpangnya yang beraroma khas. Pemanfaatan lengkuas biasanya dengan mememarkan rimpang kemudian dicelupkan begitu saja ke dalam campuran masakan. Di Amerika, lengkuas dipakai dalam praktek perdukunan dan ilmu hitam (voodoo) dan dinamakan Chewing John, Little John to Chew, and Court Case Root.
Temukunci (Boesenbergia rotunda) Sistematika Dunia : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Bangsa : Zingiberales
Suku : Zingiberaceae
Marga : Boesenbergia
Jenis : B. rotunda
31
Uraian tumbuhan
Temu kunci (Boesenbergia rotunda (L.) Mansf. syn. Curcuma rotunda L., B. pandurata (Roxb.) Schlechter, Kaempferia pandurata Roxb.) adalah sejenis rempah-rempah yang rimpangnya dipakai sebagai bumbu dalam masakan Asia Tenggara.
Bentuk temu kunci agak berbeda dengan temu-temuan yang lain karena tumbuhnya yang vertikal ke bawah.
Di Thailand temu ini dikenal dengan nama krachai, sementara pustaka Inggris menyebutnya fingerroot atau chinese ginger. Dalam bahasa Mandarin dikenal sebagai ao chun jiang
BAB III
MATERI DAN METODA
BAB III
MATERI DAN METODA
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian terhadap daya tahan tubuh ayam potong yang dikontaminasi dengan ayam sakit meliputi penyediaan, pemeriksaan, dan pengujian sampel telah dilaksanakan di lapangan (kandang peternakan ayam potong) milik sendiri.
Materi dan Alat Penelitian
Materi dan sampel yang akan diuji adalah buah pace yang sudah masak pohon sebanyak 1 biji perhari. Setiap hari mengambil buah pace dari tempat yang berbeda di Jombang. Kunyit, temu lawak, temu ireng, temugiring, lempuyang, jahe, dan kencur, lengkuas, dan temu kunci langsung membeli di kebun .
Materi penelitian terdiri dari ayam potong.
Alat-alat penelitian yang digunakan terdiri atas : kandang panggung ayam potong, dan kamera.
Metoda Penelitian
Persiapan dan Pakan ayam
Sejumlah 5.000 ekor ayam potong dipelihara sejak DOC digunakan sebagai hewan percobaan. Pada saat penelitian ayam ditempatkan pada kandang panggung. Pada saat DOC kandang diberi alas sekam dicampur dengan kapur mati dengan perbandingan 2 : 1. Kandang didesinfeksi dengan larutan KmnO4 dalam formalin 20 persen 12 jam sebelum ayam-ayam dimasukkan.
Pemberian pakan ayam terdiri atas Broiler I, Broiler II, dan air minum dari sumur Bor ditambah vitamin secara terukur.
Ayam penelitian diberikan vaksinasi ND pada umur 4 hari melalui suntikan, dan diulangi lagi pada umur 20 hari melalui air minum.
Pembagian Kelompok Perlakuan
Pada penelitian ini kelompok perlakuan yang diajukan adalah :
Perlakuan Kelompok A :
Hewan percobaan yang diberi Formulasi Ekstrak Cair Herbal (buah pace,
kunyit, temu lawak, temu hitam, temu giring, lempuyang, jahe, kencur,
lengkuas , dan temu kunci).
33
Perlakuan Kelompok B :
Hewan percobaan yang hanya diberi vitamin (Kelompok Kontrol)
Perlakuan Kelompok C :
Hewan percobaan yang diberi Formulasi Ekstrak Cair Herbal
Perlakuan Kelompok D :
Hewan percobaan yang diberi obat paket
Perlakuan Kelompok E :
Hewan percobaan yang diberi FECH.
Peubah Yang Diamati
Melakukan pengamatan setiap hari ada tidaknya yang sakit atau mati.
Pembuatan Formulasi Ekstrak Cair Herbal Pace (P), Kunyit (K), Temu lawak (TL), Temu hitam (TH), Temu giring (TG) ,Lempuyang (L), jahe (J), Kencur (K), Lengkuas (Ls) danTemu kunci (Tk)
Bahan baku ditimbang dalam gram
Hari P K TL TH TG L J K Ls Tk Ʃ (g)
1 100 50 70 50 70 60 20 30 20 30 500
2 100 50 70 50 70 60 20 30 20 30 500
3 110 60 80 60 80 70 30 40 30 40 600
4 150 60 90 60 90 80 30 40 30 50 700
5 150 60 90 60 90 80 30 40 30 50 700
6 200 60 100 70 100 90 30 40 30 50 800
7 100 90 140 140 140 60 60 60 50 60 900
8 100 90 140 140 140 60 60 60 50 60 900
9 200 90 140 140 140 60 60 60 50 60 1000
10 250 90 160 140 150 60 60 60 60 70 1100
11 250 90 160 140 150 60 60 60 60 70 1100
12 300 90 180 140 160 60 60 60 70 80 1200
13 400 90 180 140 160 60 60 60 70 80 1300
14 400 90 180 140 160 60 60 60 70 80 1300
15 450 100 190 140 170 60 60 70 70 90 1400
16 450 100 190 140 170 60 60 70 70 90 1500
17 570 100 200 140 180 70 90 70 70 90 1500
18 670 100 200 140 180 70 90 70 80 100 1600
19 770 100 200 140 180 70 90 70 80 100 1700
20 870 100 200 140 180 70 90 70 80 100 1800
21 870 100 200 140 180 70 90 70 80 100 1900
22 970 100 200 140 180 70 90 70 80 100 2000
23 1070 100 200 140 180 70 90 70 80 100 2100
24 1170 100 200 140 180 70 90 70 80 100 2200
25 1270 100 200 140 180 70 90 70 80 100 2300
26 1370 100 200 140 180 70 90 70 80 100 2400
27 1470 100 200 140 180 70 90 70 80 100 2500
28 1480 110 210 150 190 80 100 100 80 100 2600
29 1670 110 210 150 190 80 100 100 90 100 2800
30 1860 110 210 150 190 80 100 100 90 100 3000
31 1860 110 210 150 190 80 100 100 90 100 3000
32 1960 110 210 150 190 90 100 100 90 100 3100
33 2060 110 210 150 190 90 100 100 90 100 3200
34 2220 110 220 150 200 100 100 100 100 100 3400
35 2420 110 220 150 200 100 100 100 100 100 3600
36 2620 110 220 150 200 100 100 100 100 100 3800
37 2810 110 220 150 200 100 110 100 100 100 4000
38 2810 110 220 150 200 100 110 100 100 100 4000
39 2810 110 220 150 200 100 110 100 100 100 4000
40 2810 110 220 150 200 100 110 100 100 100 4000
Lajur Ʃ g adalah dosis Formulasi Ekstrak Cair Herbal yang diberikan setiap harinya.
Hari ke-1 : 500 gram bahan baku dicuci bersih, digiling dengan mesin giling, dan
diekstaraksi secara sederhana sehingga didapatkan supernatan dengan
konsentrasi 100 persen).
Demikian seterusnya sampai hari ke- 40. Ekxtrak yang didapatkan diberikan dicampur pada air minum untuk ayam-ayam kelompok A, C, dan E. Kelompok B adalah ayam-ayam kontrol yang tidak diberi sesuatu apapun kecuali vitamin. Kelompok D adalah ayam-ayam yang diberi perlakauan obat paketan.
Pengamatan dilakukan terus dari hari ke-1 sampai hari ke- 40
Pada hari ke- 35 ke dalam setiap kelompok masing-masing dimasukkan satu ekor ayam dewasa sakit yang angka kesakitannya cukup tinggi, tujuannya untuk menginfeksi ayam-ayam yang sehat secara kontaminasi.
Pengamatan dilakukan terus sampai saat panen pada umur 40 hari.
36
Uji Infeksi
Uji infeksi dengan ayam dewasa yang sakit parah dengan cara mengkontaminasikan dengan ayam-ayam sehat dilakukan pada saat ayam berumur 35 hari sebab pada keadaan normal pada umur-umur ini situasi dan kondisi ayam rawan sekali dengan serangan penyakit atau wabah.
Pengamatan terhadap ayam-ayam yang sehat meliputi tanda-tanda klinis yang tampak saat ayam terkontaminasi penyakit atau mati. Pengamatan terhadap tanda klinis dilakukan pada hari ke- 35 sampai hari ke- 40 .
Uji Pengobatan dan Penilaian kesehatan
Uji obat dilakukan pada hari ke- 36 adalah Formulasi Ekstrak Cair Herbal dengan dosis sesuai hari yang telah ditentukan dan diberikan selama 24 jam. Untuk kelompok D uji pengobatan tetap menggunakan obat paketan sesuai dengan obat yang telah dipaketkan.
Dalam penilaian kesehatan / kesakitan / kematian didasarkan pada tanda klinis yang tampak setelah kontaminasi.
Dalam Penelitian ini dicatat terdapat 10 jenis tanda klinis yang meliputi : 1. Eksudat jernih dari lubang hidung , 2. Batuk dan bersin-bersin , 3. Keluar cairan encer dari mata , 4. Kebengkaan wajah , 5. Konjungtivitis , 6. Diare berwarna kehijauan dan atau keputihan, 7. Eksudat kental dari lubang hidung , 8. Ngorok , 9. Eksudat kental dan mengandung nanah dari rongga hidung , 10. Lendir berbau busuk dari paruh. Selanjutnya dibuat skor tanda klinis berdasarkan kemungkinan tanda klinis yang masih tampak selama masa perlakuan baik obat paket ataupun FECH. Satu macam tanda klinis dineri nilai 10 persen. Penilaian persentase kesembuhan adalah 100 % - (TK H0 – TK Hn0) x 10 , dengan keterangan :
TK = tanda klinis
H0 = hari sebelum diinfeksi dan diberi FECH
Hn = hari setelah diinfeksi dan diberi FECH
37
Peubah Yang Diamati
Tanda klinis yang timbul pada hari ke 36 sampai hari ke 40 setelah kontaminasi penyakit dan setelah kontaminasi penyakit diamati terus perubahan-perubahan yang terjadi untuk mengetahui pengaruh FECH dan obat paketan serta pada kelompok kontrol.
Rancangan Percobaan dan Analisa data
Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dan delapan kali ulangan (Kusriningrum, 1988). Data hasil penelitian dianalisis secara statistik dengan Uji Kruskal Wallis (Walpole, 1982). Apabila terdapat hasil yang berbeda dilakukan yang dengan uji Z (Uji Pasanganberganda). Untuk mengetahui pengaruh Formulasi Ekstrak Cair Herbal terhadap daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit dilakukan uji Jumlah jenjang Wilcoxon (Wilcoxon`s Rank Sum Test = uji R) (Anonimus, 1989). Analisis statistik berasal dari data yang didapat berdasarkan hasil penelitian, merupakan data dari tanda klinis yang timbul pada ayam percobaan setelah dikontaminasi dan standar pengukuran adalah non-parametrik dilakukan berdasarkan nilai tanda klinis yang tampak untuk diberi nilai kesembuhan dalam persen.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
BAB IV
HASIL PENELITIAN
Pada penelitian ini Perlakuan kelompok A yang dikontaminasi dengan ayam sakit dan mendapat perlakauan Formulasi ekstrak herbal, pada pemeriksaan tanda klinis sampai hari ke 40 menunjukkan hasil angka mati 2,9%, dan tidak terdapat angsa sakit. Perlakauan pada kelompok B yang dikontaminasi dengan ayam sakit dan tidak mendapat perlakauan apapun pada pemeriksaan tanda klinis sampai hari ke 40 menunjukkan hasil angka mati 60% dan angka sakit 40%. Perlakauan pada kelompok C yang dikontaminasi dengan ayam sakit dan mendapat perlakauan Formulasi ekstrak cair herbal, pada pemeriksaan tanda klinis sampai hari ke 40 menunjukkan hasil angka mati 2,4%, dan angka sakit 0%. Perlakuan pada kelompok yang dikontaminasi dengan ayam sakit dan mendapat perlakuan dengan obat paket sampai hari ke 40 menunjukkan angka sakit 50%, angka mati 30%, dan angka sehat 20%. Perlakauan pada kelompok E yang dikontaminasi dengan ayam sakit dan mendapat perlakuan FECH menunjukkan angka mati 3,2%.
BAB V
PEMBAHASAN
BAB V
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil pengamatan penelitian inidapat dikemukakan bahwa terdapat perbedaan yang nyata terhadap nilai daya tahan hidup antara perlakuan dengan FECH dan dengan perlakauan obat paketan terhadap ayam-ayam yang berada dalam masa kontaminasi penyakit. Adapun penggunaan Formulasi Ekxtrak Cair Herbal yang terdiri atas buah pace, kunyit, temulawak, temuhitam, temugiring, lempuyang, jahe, kencur, lengkuas, dan temukunci belum pernah dilaporkan sebelum penelitian ini .
Sedangkan obat-obatan sintesis untuk menjaga kesehatan ayam di pasaran ada cukup banyak namun tidak ada yang mempunyai effektifitas tinggi, kalaupun ada harganya tidak seimbang dengan harga jual ayam, termasuk obat-obat yang sudah dipaket untuk satu periode pemeliharaan.
Dari hasil penelitian setelah dianalisis dengan uji Wilcoxon menunjukkan bahwa pengaruh pemberian FECH terhadap daya tahan tubuh ayam dalam situasi tercemar penyakitpun masih bisa memberikan kekuatan terhadap daya tahan tubuh.
Terdapat bahan aktif dalam pace, yaitu proxeronine. Proxironine merupakan bahan pembentuk xeronine. Xeronine adalah sejenis alkaloid yang mendorong scopoletin berfungsi lebih sempurna. Kebutuhan akan xeronine akan meningkat jika terdapat masalah kesehatan baik fisik maupun emosional, infeksi jamur, racun dan semakin bertambahnya usia. Dengan mengkonsumsi buah pace yang mengandung banayak proxeronine, maka kebutuhan xeronine dapat semakin terpenuhi (Dr. Ralph).
Menurut Neil Solomon ,MD., Ph.D menjelaskan bahwa zat yang terkandung dalam buah pace antara lain serotonin, melatonin, anthraquinone. Serotonine bersama-sama dengan scopoletin akan meningkatkan aktivitas dari Pineal Gland (Glandula Pinealis) yang terdapat di dasar otak. Serotonin bekerja sama dengan melatonin bisa memperbaiki kualitas tidur, suhu tubuh, suasana hati, proses pubertas dan ovaryan cycles (siklus yang diperankan oleh indung telur).
Anthraquinone merupakan zat anti bakteri, selain itu juga dapat menstimulasi sistem pencernaan. Menurut Dr. Mona Harrison, M.D. dari Boston
40
University School of Medicine, buah pace meningkatkan fungsi Thyroid dan kelenjar Thymus. Hal ini bermanfaat untuk meningkatkan daya tahan tubuh dalam melawan infeksi.
Menurut literatur minyak atsiri dapat bekerja sebagai antikuman dan antikapang (Anonimus, 1979).
Kunyit (curcuma) berkhasiat untuk obat alami. Dengan mengkonsumsi kunyit secara rutin dapat menyambuhkan sakit maag secara total.
Temulawak telah lama diketahui mengandung senyawa kimia yang mempunyai keaktifan fisiologi, yaitu kurkuminoid dan minyak atsiri. Minyak atsiri berbau dan berasa yang khas. Kurkuminoid terdiri atas senyawa berwarna kuning kurkumin dan turunannya. Kurkuminoid yang memberi warna kuning pada rimpang bersifat antibakteria, anti-kanker, anti-tumor dan anti-radang, mengandungi anti-oksidan dan hypokolesteromik.
Kajian dan penyelidikan atas temulawak (Curcuma xanthorrhiza) membuktikan bahawa rimpangnya mengandungi banyak zat kimiawi yang memberikan kesan positif terhadap organ dalam manusia seperti empedu, hati dan pankreas. Pengaruhnya keatas empedu ialah dapat mencegah pembentukan batu dan kolesistisis. Dalam hati, zat temulawak merangsang sel hati membuat empedu, mencegah hepatatis dan penyakit hati, membantu menurunkan kadar SGOT dan SGPT dan sebagai anti-hepatotoksik. Selain itu, ia dapat merangsang fungsi pankreas, menambah selera makan, berkemampuan merangsang perjalanan sistem hormon metabolisme dan fisiologi tubuh.
Komposisi kimia dari rimpang temulawak adalah protein pati sebesar 29-30 persen, kurkumin satu sampai dua persen, dan minyak atsirinya antara 6 hingga 10 persen. Daging buah (rimpang) temulawak mempunyai beberapa kandungan senyawa kimia antara lain berupa fellandrean dan turmerol atau yang sering disebut minyak menguap. Kemudian minyak atsiri, kamfer, glukosida, foluymetik karbinol. Temulawak mengandung minyak atsiri seperti limonina yang mengharumkan, sedangkan kandungan flavonoida-nya berkhasiat menyembuhkan radang. Minyak atsiri juga bisa membunuh mikroba. Buahnya mengandung minyak terbang (anetol,
41
pinen, felandren, dipenten, fenchon, metilchavikol, anisaldehida, asam anisat, kamfer), dan minyak lemak.
Menurut Andriyana (2008). Tepung Temu hitam (Curcuma aeruginosa roxburg) merupakan salah satu obat tradisional yang telah lama dikenal dan dibudidayakan secara luas sebagai bahan baku obat. Temu hitam mengandung curcumin dan minyak atsiri yang dapat digunakan untuk menambah nafsu makan dan memacu pertumbuhan. Bahan-bahan yang terkandung di dalam temu hitam dapat digunakan sebagai feed suplement (feed additiv) dalam pakan ayam buras (Gallus domesticus), tepung temu hitam berpengaruh terhadap kesehatan ternak, pertumbuhan, produktivitas, meningkatkan efisiensi pakan dan memperbaiki daya cerna pakan.
Rimpang Curcuma heyneana berkhasiat sebagai obat cacing pada anak-anak, di samping itu untuk bahan kosmetika. Temu ireng mengandung curcuminoid : curcumin, demethoxycurcumin, dan bis-demethoxycurcumin paling banyak di antara spesies curcuma yang lain.
Lempuyang atau lempuyang wangi (Zingiber zerumbet, sin. Z. aromaticum) adalah sejenis rempah-rempah yang berkhasiat obat. Rimpangnya dimanfaatkan sebagai campuran obat. Lempuyang atau puyang adalah salah satu bahan utama jamu yang cukup populer, cabe puyang. Lempuyang diketahui mampu menginduksi apoptosis sel-sel kanker. Hasil kajian di Jepang menemukan bahwa ekstrak rimpang lempuyang dapat menekan pertumbuhan sel-sel melanoma pada mencit percobaan. Efek penekanan (inhibitor) diketahui terjadi melalui penghambatan terhadap ekspresi gen tirosinase pada sel melanoma
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil penenltian ini dapat disimpulkan bahwa :
1. Tingkat daya tahan tubuh terhadap infeksi sesuatu penyakit pada
Ayam potong menunjukkan 98,75 + 3,54 persen dengan pemberian
Formulasi Ekstrak Cair Herbal Buah pace, kunyit , temu lawak, temu hitam,
temu giring, lempuyang, jahe, kencur, lengkuas, dan temu kunci.
2. Terdapat perbedaan pengaruh antara pemberian Formulasi Ekstrak Cair
Herbal dengan obat paket terhadap nilai daya tahan hidup pada ayam
Broiler setelah diinfeksi dengan ayam sakit (p ˃ 0,05).
Saran
Dari hasil penelitian ini disarankan :
1. Dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap penggunaan dosis pencegahan
yang tepat efektif dari Formulasi Ekstrak Cair Herbal buah mengkudu,
kunyit, temu lawak, temu hitam, temu giring, lempuyang, jahe, kencur, lengkuas,
dan temu kunci , dan kemungkinan efek toksik yang ditimbulkan akibat
pemakaian dosis yang berlebih atau penggunaan jangka panjang.
2. Dilakukan isolasi , identifikasi, dan analisa senyawa aktif yang terdapat
Di dalam Formulasi Ekstrak Cair Herbal tersebut yang memiliki potensi
terhadap daya tahan hidup ayam selama masa infeksi.
RINGKASAN
43
RINGKASAN
Ilham Akbar Hardiansyah. Mempertahankan tingkat hidup 100 persen peternakan ayam broiler .
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek pencegahan Formulasi Ekstrak Cair Herbal buah pace, kunyit, temu lawak, temu hitam, temu giring, lempuyang , jahe , kencur, lengkuas, dan temu kunci terhadap ayam broiler yang diinfeksi secara kontaminasi dengan ayam sakit dengan tanda klinis eksudat jernih dari rongga hidung , batuk dan bersin-bersin , cairan encer dari mata , kebengkaan wajah , konjungtivitis , diare berwarna kehijauan dan atau keputihan, eksudat kental , ngorok , eksudat kental dan mengandung nanah dari rongga hidung , dan lendir berbau busuk dari paruh.
Lima ribu ekor ayam broiler sebagai sampel dalam penelitian ini dibagi dalam dua perlakauan.
Perlakuan meliputi uji infeksi dan uji Perlakuan. Perlakuan dengan Formulasi Ekstrak Cair Herbal buah pace, kunyit, temu lawak, temu hitam, temu giring, lempuyang, jahe, kencur, lengkuas, dan temu kunci diberikan melalui air minum selama 24 jam, obat paket sebagai pembanding diberikan melalui air minum sesuai program pengobatan dalam satu periode pemeliharaan, dan kelompok kontrol yang air minumnya hanya diberi vitamin .
Pengamatan terhadap persentase hidup / mati dilakukan sampai hari ke 40 saat panen, dan setelah dianalisis secara statistik ternyata Formulasi Ekstrak Cair Herbal buah pace, kunyit, temu lawak, temu hitam, temu giring, lempuyang ,jahe, kencur, lengkuas, dan temu kunci memiliki dukungan potensi terhadap daya tahan hidup ayam broiler terutama pada masa-masa infeksi.
DAFTAR PUSTAKA
44
DAFTAR PUSTAKA
Auterhoff, H. Dan Kovar. 1987. Identifikasi Obat. Terbitan ke empat. ITB Bandung. 187-188
Bos, R., Windono, T., Woerdenbag. H. J., Boersma, Y. L., Koulman, A. And Kayser, O. 2007. HPLC-photodiode array detection analysis of curcuminoids in Curcuma species indigenous to Indonesia.. 18(2):118- 22
Chuseri, A. J. 1975. Mekanisme Pengaruh Hipotensif Perasan Buah Morinda citrifolia (pace, Jawa) Pada Kucing. Obat dan Pembangunan Masyarakat Sehat , Kuat dan Cerdas. Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Universitas Indonesia Jakarta. 587-589.
Cho, W., Nam, J.W., Kang, H.J., Windono, T., Seo, E.K. and Lee, K.T. 2009. Zedoarondiol isolated from the rhizoma of Curcuma heyneana is involved in the inhibition of iNOS, COX-2 and pro-inflammatory cytokynes via the downregulation of NF-kappaB pathway in LPS murine macro- phage s.
Esau , K. 1964. Plant Anatomy 2nd. ed . John Wilsey & Sons. Inc. New York. 586-609.
Heyne, K. 1950. De Nuttige Planten Van Indonesia. Dell II 3 e drunk. N.V. vitgeverij. W. Van Hoeve`s Cra venhage. Bandung. 1400-1410.
Hoeve, V. 1983. Ensiklopedi Indonesia. Kom-ozo. Mengkudu (Latin : Morinda citrifolia). Ikhtiar Baru. Elsvier Publishing Projects. Jakarta. 2201.
Koamesah, R.T. 1984. Penelitian Morfologi , Anatomi , dan Isolasi Kandungan Kimia Dari Buah Morinda citrifolia , Linn. Skripsi. Fakultas Farmasi Universitas Airlangga Surabaya.
Kusriningrum, R. 1989. Dasar Perencanaan Percobaan Dan Rancangasn Acak Lengkap. Universitas Airlangga Surabaya. 53-64.
Steenis, V. 1981. Flora Untuk Sekolah Di Indonesia. Pradnya Paramita. Jakarta. 398-399.
Usia, T., Iwata, H., Hiratsuka, A., Watabe, T., Kadota, S. dan Tezuka, Y. 2005, CYP3A4 and CYP2D6 inhibitory activities of Indonesian medicinal plants., Phytomedicine. :13(1-2):67-7
Walpole, R. E. 1982. Introduction to Statistics 3 rd. ed. MacMillan Publishing Co., Inc. N.Y. 450-451.
LAMPIRAN
45
Lampiran 1. BROILER I (Makanan Ternak Bentuk Crumble Untuk Fase Starter), BROILER II (Makanan Ternak Bentuk Pellet Untuk Fase Grower), Untuk Ayam Pedaging Produksi PT. Comfeed Indonesia Ltd.
Komposisi nilai gizi , dan bahan dasar penyusun ransum (dalam %)
Komposisi BROILER I (1 hari s/d 4 minggu) BROILERII (sesudah 4 minggu)
Protein 21 - 23 18 - 20
Lemak 4 - 6 5 - 7
Serat 3 - 4 3 - 4,5
Calsium 0,9 - 1,0 0,9 - 1,10
Fosfor 0,7 - 0,9 0,7 - 0,9
Abu 5 - 6 5 - 6
Energi 2800 - 3000 3000 - 3200
Lisin 1,1 - 1,3 1,0 - 1,1
Metionin 0,9 - 1,0 0,86 - 0,9
Sistin 0,9 - 1,0 0,86 - 0,9
46
Lampiran 2. Vitachicks (vitamin dan antibiotik untuk pertumbuhan kesehatan anak ayam)
Formula (per kilogram) Bacitracin MD 36 g Vitamin A 5.000.000 I.U. Vitamin D3 500.000 I.U. Menadione sodium bisulfid (vitamin K) 1 g Vitamin B1 2 g
43
Nicotinic Acid 15 g Vitamin B2 4 g Calcium D-pantothenate 5 g Vitamin B6 1 g Vitamin B12 1 g Vitamin C 20 g
47
Lampiran 3. Penghitungan Penimbangan Berat Badan Ayam Penelitian
Hari ke- 1
____________________________________________________________________
Kelompok Berat Badan J u m l a h BB – BB (BB - BB)2
(g) Ekor gram (g) (g)
A 290 10 2900 -2 4
B 310 10 3100 18 324
C 305 10 3050 13 169
D 285 10 2850 -7 49
E 270 10 2700 -22 484
Total 14600 1030
Rata-rata 292
SD 4,58
Keterangan :
BB = berat badan
S.D. = √ 1030 = √ 21,02 49
= 4,58
48
Lampiran 4. Cara Penghitungan Dosis Obat Hari ke-1 : 500 g Formulasi Bahan Dasar Herbal setelah melalui ekstraksi sederhana didapatkan : - supernatan = 150 ml (konsentrasi 100%) (x) - saedimen = 81 g (konsentrasi 100%) (y) 81 g serbuk formulasi herbal ∞ 150 ml FECH Berat badan ayam penelitian pada hari 1= 292 + 4,58 g (p)
Dosis yang diberikan = 10 ml/kg BB
Dosis dalam bentuk cair = 292 x 10 ml = 2,92 ml (s) 1000
Y gram ∞ x ml
81 gram ∞ 150 ml
0,54 gram ∞ 1 ml
Dosis yang diberikan =
2,92 ml/ekor ∞ (292 x 2 x 540 mg) 1000
∞ 292 x 1080 mg 1000
315,36 mg berat kering FEH
49
Lampiran 5. Hasil Pengamatan Tanda Klinis Pada Ayam Broiler Yang Diinfeksi Dengan Ayam Sakit Secara Kontaminasi
____________________________________________________________________ U- Pengamatan Pasca Infeksi (Hari ke) Skor Keterangan lang- 36 37 38 39 an
1 1 - 3 1 - 4 1 - 5 1 - 6 1 eksudat jernih dari 2 0 1 - 3 1 - 5 1 - 6 rongga hidung 3 1 - 3 1 - 4 1 - 5 1 - 6 4 0 1 - 2 1 - 4 1 - 5 2 batuk dan bersin- 5 0 1 - 3 1 - 4 1 - 5 bersin 6 1 - 2 1 - 4 1 - 5 1 - 5 7 0 1 - 3 1 - 4 1 - 4 3 cairan encer dari 8 1 - 3 1 - 4 1 - 4 1 - 4 mata
1 0 1 - 3 1 - 4 1 - 4 4 kebengkaan wajah 2 1 - 3 1 - 4 1 - 5 1 - 6 3 0 1 - 3 1 - 4 1 - 5 5 konjungtivitis 4 0 1 - 3 1 - 5 1 - 6 5 1 - 2 1 - 4 1 - 5 1 - 6 6 diare berwarna ke- 6 1 - 2 1 - 4 1 - 5 1 - 5 hijauan dan atau 7 1 - 2 1 - 4 1 - 5 1 - 5 keputihan 8 0 1 - 2 1 - 4 1 - 6 1 1 - 2 1 - 3 1 - 4 1 - 5 7 eksudat kental dari 2 0 1 - 2 1 - 3 1 - 5 lubang hidung 3 1 - 2 1 - 3 1 - 4 1 - 5 4 1 - 2 1 - 3 1 - 4 1 - 6 5 1 - 3 1 - 4 1 - 5 1 - 6 6 0 1 - 2 1 - 4 1 - 5 7 0 1 - 2 1 - 3 1 - 4 8 1 - 3 1 - 4 1 - 4 1 - 4
50
Lampiran 6. Hasil Pengamatan Tanda Klinis Pada Ayam Broiler Yang Diinfeksi Dengan Ayam Sakit Secara Kontaminasi Pada Kelompok Kontrol, Kelompok FECH, dan Kelompok Obat Paket
____________________________________________________________________ P P U- P e r l a k u a n (Ha- lang- ACE B D Skor Keterangan ri) an (I) (III) (II) _________________________________________________________________
1 0 1 - 7 1 - 6 1 eksudat jernih dari 2 0 1 - 7 1- 6 rongga hidung 3 0 1 - 7 1 - 6 2 batuk dan bersin- 37 4 0 1 - 6 1 - 5 bersin 5 0 1 - 5 1 - 5 3 cairan encer dari 6 0 1 - 5 1 - 5 mata 7 0 1 - 6 1 - 4 4 kebengkaan 8 0 1 - 7 1 - 4 walah 1 0 1 - 7 1 - 5 5 konjungtivitis 2 0 1 - 7 1 - 6 6 diare berwarna kehi- 3 0 1 - 8 1 - 6 jauan dan atau ke - 38 4 0 1 - 8 1 - 6 7 eksudat kental dari 5 0 1 - 6 1 - 6 8 ngorok 6 2 1 - 7 1 - 5 9 eksudat kental dan 7 0 1 - 8 1 - 5 mengandung nanah 8 0 1 - 7 1 - 6 dari rongga hidung 1 0 1 - 9 1 - 7 10 lendir berbau busuk 2 0 1 - 9 1 - 7 dari paruh 3 0 1 - 8 1 - 8 A FECH 39 4 0 1 - 8 1 - 6 B Kontrol 5 0 1 - 5 1 - 6 C FECH 6 0 1 - 9 1 - 7 D Obat paket 7 0 1 - 7 1 - 6 E FECH 8 0 1 - 7 1 - 8
51
Lampiran 7. Hasil Pengamatan Perlakuan Terhadap Tingkat Hidup SelamaPemberian FECH Dan Saat Masa Infeksi (Dalam Persen)
____________________________________________________________________ Pasca Ulangan P E R L A K U A N Pengobatan _________________________________________________ (Hari Ke-) I II III FECH Obat Paket Kontrol ____________________________________________________________________ 1 100 40 30 2 100 40 30 3 100 40 30 37 4 100 60 40 5 100 50 50 6 100 50 50 7 100 50 40 8 100 40 30______ Total 800 360 300 ____________________________________________________________________Rata-rata 100 45 37,5______ SD_________________________________________________________________ 1 100 50 30 2 100 40 30 3 100 40 20 38 4 100 40 20 5 100 40 40 6 80 50 30 7 100 50 20 8 100 40 30______ Total 780 350 190 ____________________________________________________________________Rata-rata 97,5 43,75 23,75 __ SD __ 1 100 30 10 2 100 30 10 3 100 20 20 39 4 100 40 20 5 100 40 50 6 100 30 10 7 100 30 30 8 100 20 30 _____ Total 800 260 180 ____________________________________________________________________ Rata-rata 100 32,5 22,5 SD¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬_________________________________________________________________
52
Lampiran 8. Data Nilai Tingkat Hidup dan Rangking Pada Ayam Broiler Selam Pemberian Formulasi Ekstrak Cair herbal (Dalam Persen)
¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬ __________________________________________________________ 37 Hari Pasca Pemberian FECH 39 Hari Pasca Pemberian FECH ____________________________________________________________________ A- K R A- E R A- K R A- E R yam (N) yam (N) yam (N) yam (N) __ 1 100 8,5 9 100 8,5 1 100 8 9 100 8 2 100` 8,5 10 100 8,5 2 100 8 10 100 8 3 100 8,5 11 100 8,5 3 100 8 11 100 8 4 100 8,5 12 100 8,5 4 100 8 12 100 8 5 100 8,5 13 100 8,5 5 100 8 13 100 8 6 100 8,5 14 100 8,5 6 100 8 14 100 8 7 100 8,5 15 100 8,5 7 80 1 15 100 8 8 100 8,5 16 100 8,5 8 100 8 16 100 8 Jumlah 68 ____ 68_________________57____________ 64 Rata-rata_____8,5_______________8,5_________________7,13__________ 8 SD_________________________________________________________
Cara penghitungan : Cara penghitungan
100 = 16 ; 1+2+...+16 = 136 = 9,1 80 = 1 15 15 100 = 15 ; 1+2+...+15 = 120 15 15
. = 8
Karena : Karena :
Rhit = 68 < R0,05 (8,8) = 68 Rhit =
Maka : H01 ditolah maka : H01 ditolak
Jadi : pemberian formulasi Ekstrak cair jadi : pemberian formulasi eks
Herbal dapat menjaga kesehatan ayam trak cair herbal dapat menjaga
Broiler dalam masa-masa infeksi kesehatan ayam broiuler dalam
Masa-masa infeksi.
53
Lampiran 9. Nilai Tingkat Hidup dan Analisis Nilai Tingkat Hidup Ayam Broiler yang Dikontaminasi Dengan Penyakit Sampai Hari ke 40
____________________________________________________________________ Ayam Broiler ____________________ Perlakuan_________________________ I II III N Rank N Rank N Rank ____________________________________________________________________ 1 100 4,5 30 3,5 10 2 2 100 4,5 30 3,5 10 2 3 100 4,5 20 2,5 20 2,5 4 100 4,5 40 1,5 20 2,5 5 100 4,5 40 1,5 50 1 6 100 4,5 30 3,5 10 2 7 100 4,5 30 3,5 30 3,5 8 100 4,5 20 2,5 30__ 3,5 Jumlah 800 240 180 Rata-rata_____ 100 _________________ 30______________________22,5____ SD____________3,8_________________ 2,1______________________1,8____
Cara penghitungan :
10 = 3 ; 1 + 2 + 3 = 2 3 20 = 4 ; 1 + 2 + 3 + 4 = 2,5 4 30 = 6 ; 1 + 2 + 3 + 4 + 5 + 6 = 3,5 6 40 = 2 ; 1 + 2 = 1,5 2 50 = 1 = 1 100 = 8 ; 1 + 2 + 3 + 4 + 5 + 6 + 7 + 8 = 4,5 8
Hhitung = _________12_________
thanks gan infonya.... ijin share di sini Ternak Pertama Ditunggu gan kunjungan baliknya
BalasHapusOnline Casino Sites - Lucky Club Live Casino
BalasHapusLucky 카지노사이트luckclub Club Live Casino · Lucky Casino Casino is an online casino operated by Glimming Glimming Glimming Glimming Glimming Gaming Glimming Glimming Glimming Gaming Glimming Gaming Glimming Gaming
What is casino slot machines? - Wooricasinos
BalasHapusWhere does slot machines come from? — 스포츠 벳 Slot 도박장 구인 machines originated from gambling shops in Russia. In 바카라 게임 the gambling days, slot machines became 부들 이 벗방 more and 슬롯 more popular,